WAYANG KULIT

WAYANG KULIT adalah kesenian asli dari JAWA TENGAH yang masih populer hingga sekarang.

ANGKLUNG

ANGKLUNG adalah salah satu alat musik asal JAWA BARAT yang diakui oleh UNESCO sebagai warisan sejarah INDONESIA.

REOG

REOG adalah tarian asli JAWA TIMUR tepatnya di kota PONOROGO .

LARUNGAN

LARUNGAN adalah kebiasaan tiap tahun penduduk kota ponorogo dalam menyambut datangnya tahun baru HIJRIYAH.

SEKATEN

SEKATEN adalah acara peringatan ulang tahun nabi Muhammad s.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta .

Tampilkan postingan dengan label tradisi jawa tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisi jawa tengah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Maret 2012

sejarah wayang kulit

Wayang kulit diciptakan Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri sekitar abad ke-10. Raja berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya yang digoreskan di atas daun lontar. Bentuknya ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia, yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu.

Wayang kulit tokoh Kresna
Figur tokoh pertama yang diciptakan adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata adalah perwujudan dewa Wisnu. Secara umum wayang memang mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana, tetapi tidak selalu terbatas pada kedua cerita tadi saja. Satu hal yang pasti, untuk memahami cerita wayang atau lakonnya, penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh pewayangan. Beberapa tokoh pewayangan antara lain Kresna, Dewi Sinta, Dewi Arimbi, Srikandi, Surtikanti, Punta Dewa, Bima, Arjuna, Werkudoro, Brotoseno, Sadewa, Nakula, dll.
Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. Dalam pergelarannya, wayang kulit diiringi oleh musik gamelan dengan nyanyian para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik layar yang disebut kelir dan terbuat dari kain putih. Bagian belakang kelir disorotkan lampu listrik atau lampu minyak sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir.